Opini

Dirgahayu ke-71 Tahun Bangsa Indonesia , Berharap Menuju Masyarakat Adil dan Makmur.

Selasa, 16 Agustus 2016Oleh : Miftakul Rohmah, S.Pd., M.PdAnggota KPU Kabupaten SidoarjoTak terasa tepat tanggal 17 Agustus 2016, bangsa Indonesia menginjak usia 71 tahun, ibarat manusia usia 70 tahun adalah usia yang sangat matang kalau tidak mau disebut sudah tua. Lalu seiring dengan usia bangsa Indonesia yang sudah “tua“ akan juga menjadikan bangsa Indonesia menjadi rapuh dan sakit-sakitan ataukah sebaliknya menjadi bangsa yang penuh dengan kedewasaan dalam menghadapi problematika yang ada. Jika ditinjau dari segi kesehatan dan fisik, maka pada umur 70 tahun orang akan kehilangan kira kira 10 kg. otot, 15 persen tulang, dan 5 cm. tinggi badan dari sisi reproduksi bagi seorang wanita, bahkan pada usia 50 tahun saja hormon kewanitaan juga sudah menurun. Dan secara kesehatan sudah sering didera penyakit. Singkatnya ketika seseorang berada pada usia 65 tahun ke atas, maka seseorang dianggap memasuki usia lansia, usia dimana terjadi masa kemunduran fisik maupun mental.Jika secara teori diusia 70 tahun seseorang mengalami penurunan secara fisik maupun kognitif, tetapi banyak juga kita jumpai kisah sukses pemimpin di dunia, di zaman Rosulullah kholifah Utsman bin Affan memimpin pada usia 69-70 tahun, lihatlah bukankah Habibie di usia 62 tahun, dan sekarang yang lagi akan bertanding di perebutan kursi Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton-pun berusia 69 tahun, demikian juga Donald Trump berusia 70 tahun. Dan ada pandangan, ketika manusia barada di usia 70 tahun, maka di sanalah kebijakaan dan kedewasaan seseorang akan terlihat sangat jelas dan nyata.Disisi lain kita juga bisa belajar dari bangsa-bangsa lain di dunia, bagaimana kondisi bangsa mereka ketika mencapai usia 70 tahun. Paling tidak, kita bisa belajar sejarah tentang 2 negara adikuasa di dunia ini, yakni Amerika Serikat dengan faham kapitalisnya dan Uni Soviet dengan faham komunisnya. Ternyata Uni Soviet runtuh 26 Desember 1996 tepat berusia 70 tahun, tentu kita bangsa Indonesia tidak menginginkan mengalami nasib seperti Uni Soviet. Tentu sebagai bagian dari rakyat Indonesia berharap Indonesia menjadi Negara yang adil dan makmur yang dalam bahasa Qur’annya (Baldatun Thoyibatun Wa Robbun Ghofur), sebuah negeri dimana masyarakatnya yang berhak mendapatkan haknya, yang berkewajiban akan melaksanakan kewajibannya dan yang berbuat baik akan mendapatkan anugrah sebesar kebaikannya, dan kehidupan masyarakat yang demikian dikenal juga dengan konsep masyarakat madani. Lalu apakah Bangsa Indoesia bisa sampai pada tataran di atas dan apa sajakah indikator menjadi Negara yang Baldatun Thoyibatun Wa Robbun Ghofur, dengan kehidupan seperti masyarakat madani. H. Syajrijal seorang ulama berpendapat bahwa dibutuhkan 4 pilar yakni, 1) adalam ulama yang berilmu, 2) Umara yang adil, 3) orang kaya yang dermawan, dan 4) orang fakir yang mau berdoa. Artinya disini adalah ulama harus berilmu karena menjadi tempat bertanya dari ke tiga unsur di atas. Pemimpin harus adil tanpa membeda-bedakan rakyatnya, orang kaya dermawan yang suka bershodakoh kepada yang membutuhkan, dan orang fakir berdoa untuk ulama, umara dan orang kaya.Bagaiamana dengan kondisi bangsa kita, adakah 4 pilar konsep Negara Baldatun ada di Negara kita, ataukah salah satunya, mari kita telaah lebih dalam, 1) Bangsa Indonesia adalah salah satu negara yang memenuhui konsep masyarakat madani, dimana civil socity hadir lebih dahulu dibandingkan negara itu sendiri, dan hal ini yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Hal ini bisa dilihat, jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka telah berdiri organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan dan keagaamaan seperti NU dan Muhammadiyah, bukankah NU di dirikan pada tanggal 26 Januari tahun 1926, dan bahkan Muhammadiyah jauh sebelum itu yakni pada tanggal 18 November 1912. Dan sudah diketahui bersama bahwa didirikannya NU yang berarti kebangkitan para Ulama adalah sebagai wadah berkumpulnya para ulama, sedang didirikannya Muhammadiyah tidak lain adalah untuk menanamkan keilmuwan bagi bangsa Indonesia sehingga bangsa Indonesia terhindar dari kebodohan yang pada akirnya bisa terlepas dari penjajahan. Sehingga dengan kata lain satu unsur telah terpenuhi.2) Pemimpin atau umara yang adil, bangsa Indonesia sejak kemerdekaan tahun 1945 telah mengalami pergantian pemimpin sebanyak 7 kali mulai dari Soekarno sampai dengan Joko Widodo. Masing masing punya gaya dan karekter kepemimpinan yang berbeda, namun pertayaannya meskipun berbeda apakah mereka bisa dikatakan sebagai pemimpin yang adil, tentu cukup sulit untuk memberikan indikator terhadap pemimpin yang adil tersebut, tetapi setidaknya mereka yang memiliki keberanian dalam mencegah kemungkaran, sesuai antara perbuatan dan perkataan, mempuyai kecakapan dan kebijakan tetapi berakhlak dengan lemah lembut. Disisi lain, syaikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi mengatakan bahwa para umara tidak hanya terbatas pada level pemimpin tertinggi yakni presiden, tetapi juga para hakim, para ilmuwan, pihak keamanan (TNI-Polri), pimpinan ormas, dan para Zuama (orang-orang yang membantu kesulitan umatnya). Dan masih banyak kita jumpai orang-orang baik di lembaga lembaga tersebut.3) Terkait bagaimana sifat kedermawan orang-orang kaya yang punya kelebihan di Indonesia, sesungguhnya kita punya sederet nama untuk menggambarkan betapa banyak orang yang sebenarnya dermawan di negeri ini. Sebut saja nama Tahir, pemimpin Group Mayapada, orang terkaya ke-12 versi majalah Forbes, ia termasuk orang dermawan di dunia yang tergabung dalam Giving Pledge. Dia pernah menyumbang US$ 100 juta lewat Bill Gate Foundation untuk mengentaskan bencana kemiskinan, kesehatan dan pendidikan, belum lagi nama Anne Avantie mendirikan yayasan Kasih Bunda yang fokus menangani balita hidrochepalus, ada juga Irwan Hidayat, pemilik Sidomuncul Group ini setiap tahunnya menghabiskan biaya US$ 280 ribu untuk mengadakan mudik gratis, ada juga nama Wakil Presiden Yusuf Kalla yang aktif di Palang Merah Indonesia melalui Kalla Foundation menyumbang US$ 1.3 juta untuk membiayai anak miskin sekolah di wilayah Bone.4) Indikator terakhir adalah orang-orang miskin banyak yang mendoakan ulama, umara, dan agniya. Sebenarnya hal ini adalah hal yang sangat lumrah terjadi jika ketiga golongan di atas menjalankan fungsinya secara benar. Contohnya ketika para agniya memberikan sebagain rizkinya kepada orang-orang miskin, tentu orang yang miskin akan mendoakannya. Meskipun belum didapatkan data apakah di Indonesia masih banyak orang miskin mendoakan ulama, umara dan agniya, tetapi paling tidak masih banyak orang kaya yang dermawan, masih banyak ulama yang dipercaya fatwanya, dan masih banyak umara yang menjalankan fungsinya secara benar adalah bukti dari wujud adanya doa orang miskin kepada mereka, karena jika orang miskin sudah tidak mendoakan mereka, maka mereka sudah hancur karena doa orang miskin sangat mustajabah.Dan pada akhirnya kita masih tetap punya harapan dan optimisme bahwa bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan mampu mencapai derajat Baldatun Thoyibatun Wa Rabbun Ghofur dan masyarakat benar-benar cerminan masyarakat madani saling menhormati, saling manghargai yang tahu mana hak dan kewajiban. Dan terakhir tidak lupa saya mengucapkan Dirgahayu ke-71 tahun, bangsaku semoga menjadi negara yang maju, adil dan makmur. Semoga.

PEMILU DARI MASA KE MASA

Kamis, 11 Agustus 2016POTRET PERJALANAN SEJARAH  PENYELENGGARAAN PESTA DEMOKRASI OLEH KPU KABUPATEN SIDOARJOOleh : Miftakul Rohmah, S.Pd., M.Pd Anggota KPU Kabupaten Sidoarjo Tidak terasa perjalanan KPU Kabupaten Sidoarjo sebagai penyelenggara Pemilu di Kabupaten Sidoarjo sudah berusia hampir 13 Tahun. Sebagaimana diketahui bahwa KPU Kabupaten Sidoarjo bersama-sama dengan KPU Kabupaten/Kota yang lainnya di Indonesia dibentuk sebagai wujud implementasi dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu.Sebagai penyelenggara pemilu dalam kurun waktu 13 Tahun, sudah barang tentu telah banyak sejarah pelaksanaan pesta demokrasi yang ditorehkan oleh KPU Kabupaten Sidoarjo. Ada sebelas kali pesta demokrasi yang sudah dilaksanakan oleh KPU Kabupaten Sidoarjo, dan berikut ini adalah gambaran sekilas sejarah perjalanan pesta demokrasi yang ditorehkan oleh KPU Kabupaten Sidoarjo dengan segala dinamikanya.1. Pemilu DPR , DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten Tahun 2004Tahun 2004 bisa dikatakan merupakan tonggak sejarah baru proses pelaksanaan pesta demokrasi. Jika pada pemilu-pemilu yang sebelumnya ditangani oleh pemerintah dan parpol, maka pada tahun inilah pertama kalinya pemilu diselenggarakan oleh lembaga independen yang bernama Komisi Pemilihan Umum (KPU). Begitu pula di Kabupaten Sidoarjo, pada Tahun 2004 ini KPU Kabupaten Sidoarjo bersama-sama dengan KPU Kabupaten/Kota yang lainnya menjadi penyelenggara Pemilu di tingkat kabupaten/kota, untuk pertama kalinya menggelar Pemilu legislatif yang memilih para wakil rakyat yang akan duduk di kursi DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.Sebagai lembaga yang baru dibentuk dan langsung menyelenggarakan pemilu untuk pertama kalinya, maka sangat wajar bila dalam Pemilu tersebut, KPU Kabupaten Sidoarjo harus mampu beradaptasi secara cepat dalam mengimplementasikan peraturan perundang-undangan yang ada ataupun dinamika yang terjadi.Pemilihan legislatif yang diselenggarakan pada tanggal 5 April 2004 untuk Kabupaten Sidoarjo, terdiri dari 1.201.526 jumlah pemilih dengan jumlah TPS sebanyak 4465 buah, dengan tingkat partisipasi pemilih sebesar 937.177 orang (77,9%). Adapun hasil perolehan suara partai Pemilu DPRD Tahun 2004 dapat dilihat sebagaimana tabel di bawah ini.Selengkapnya di sini

Resensi Buku : Masa Depan Partai Islam di Indonesia

Selasa, 02 Agustus 2016Oleh : Syam Rahmanto, S.IP.Staf Bagian Teknis Pemilu dan HupmasMaraknya kelahiran partai-partai Islam menjadi salah satu penanda terbukanya keran-keran kebebasan di era Reformasi. Kebangkitan politik aliran Islam menandaskan saluran aspirasi politik umat Islam tidak lagi hanya bermuara kepada PPP saja. Selain itu, dalam pembelahan aliran Islam berikutnya, tampilnya wajah baru gerakan Tarbiyah yang bertransformasi menjadi PK(S) menunjukkan performa politik Islam baru di luar basis kekuatan Islam yang telah mapan, NU dan Muhammadiyah.Terlepas dari pemilahan aliran dalam Islam, entah itu tradisional, modern maupun pembaruan, para elit politik mendirikan partai dengan asas maupun simbol Islam tentunya mengandung kalkulasi politik. Kalkulasi tersebut berangkat dari konsekuensi logis mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam yang tentunya sangat berpotensi menyalurkan suaranya pada partai yang mengindentifikasikan dirinya sebagai partai Islam. Sayangnya, realitas politik tidak selalu berbanding lurus dengan realitas sosiologis. Meskipun Islam sebagai agama mayoritas yang dianut bangsa Indonesia, secara politik terhitung minim. Keterangan demikianlah yang oleh sebagian ilmuwan politik dianggap sebagai “paradoks elektoral”. Mengapa demikian?Pertanyaan di atas merupakan salah satu pembahasan penting yang coba dijawab dalam buku “Masa Depan Partai Islam di Indonesia”. Buku yang diprakarsai LIPI ini merupakan sebuah refleksi dengan membaca trend yang berlalu dan coba mengurai masa depan partai Islam dari sudut pandang volatilitas elektoral. Volatilitas elektoral (VE) memfokuskan pembahasan pada pergeseran suara partai politik dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Ringkasnya, buku ini mencoba menggambarkan perbandingan perolehan suara keseluruhan atau pun masing-masing partai Islam dalam setiap kontestasi pemilihan umum.    Partai Islam disini merujuk pada pada partai yang secara tegas mencantumkan Islam sebagai ideologi dalam AD/ART (PAN, PPP, PBB, PKS), maupun partai yang tidak menuliskan dalam konstitusinya namun simbol dan latarbelakang berdirinya tidak terlepas dari Islam sebagai identitas yang melekat dalam diri partai (PKB).Selain perbincangan mengenai volatilitas elektoral, buku ini juga menyajikan analisis eksplanatif atas faktor-faktor yang mempengaruhi volatilitas suara partai-partai Islam. Di samping itu, salah pertanyaan kunci yang hendak dijawab dalam buku ini sebagaimana telah disinggung di awal tulisan adalah mengapa mayoritas Islam secara sosiologis tidak bisa dikonversi menjadi mayoritas Islam politik? Fakta partai-partai Islam masih minoritas secara politik dapat dilacak dari Empat kali Indonesia menjalani pemilihan umum pasca reformasi. Penggabungan suara dari sembilan partai Islam yang mengikuti kontestasi Pemilu tahun 1999 hanya mencapai 37,59. Pada tahun 2004, suara kumulatif partai-partai Islam hanya naik 0,95% dengan pencapaian 38,54%. Pada penyelenggaraan pemilu 2009, suara partai-partai Islam menurun drastis hanya berkisar 25,94%. Pada pemilu terakhir 2014 kemarin, suara kumulatif partai-partai Islam naik menjadi 31,39%. Kenyataan ini menunjukkan kecenderungan partai-partai Islam masih minoritas secara politik.Buku ini terbagi menjadi 7 bab. Bab pertama, “Masa Depan Partai Islam Era Reformasi: Sebuah Prespektif Analisa”, bertindak sebagai pengantar yang mengulas partai Islam dan pemilu di Indonesia dari prespektif volatilitas dari pemilu ke pemilu serta faktor-faktor pendorongnya. Dalam pengantar ini pula disebutkan alasan memilih partai Islam sebagai obyek analisis dan sistematika penulisan buku.Bab kedua, “Dinamika Partai Politik Islam di Indonesia: Prespektif Historis”. Bab ini menekankan uraian atas keberadaan partai-partai Islam dari sisi sejarah semenjak pra kemerdekaan, kemerdekaan hingga pasca reformasi.Pada ulasan lebih lanjut, bab ke tiga hingga ke enam menekankan pembahasannya pada analisis masing-masing empat partai Islam, yaitu PKB, PAN, PPP dan PKS. Pemilihan diskursus lebih mendalam atas empat partai tersebut didasarkan pada perolehan suara pada setiap pemilu pasca reformasi yang relatif masih dapat bertahan dan memiliki perwakilan di parlemen. Sedangkan partai-partai Islam lainnya banyak yang tersingkir karena tidak bisa memenuhi target parlementarry treshold (PT).Bab terakhir, yakni bab 7 berjudul “Masa Depan Partai Islam di Indonesia: Sebuah Catatan Penutup”. Syamsuddin Haris sebagai penulis merangkai berbagai ulasan yang telah dikemukakan sebelumnya.  Terlebih dahulu dia memulai pembahasan pada relasi Islam dan politik yang tidak bisa dipisahkan dari pergulatan sejarah awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya terkait perdebatan Islam vs Nasionalis; termarjinalkannya Islam secara politik di era otoriter Soeharto serta euforia kebangkakitan Islam mengekspresikan kebebasan melalui partai politik. Dalam catatan penutup tersebut, Syamsuddin Haris juga mengemukakan beragam faktor internal dan eksternal kegagalan elektoral partai Islam. Faktor internal meliputi : organisasi dan kelembagaan partai, polarisasi politik dan kepemimpinan, identitas dan disorientasi ideologi sehingga kehilangan daya jual, kinerja elektoral partai yang kurang optimal. Sedangkan faktor eksternal meliputi: transformasi sosio-kultural, internalisasi nilai-nilai dan simbol Islam di partai nasionalis, dan terakhir faktor struktur politik yang berlaku, seperti sistem pemilu dan kepartaian.Melacak dari pengalaman empiris partai-partai Islam dalam empat kali pemilu, menariknya, Syamsuddin Haris mensinyalir kecilnya peluang mengonversi mayoritas Islam secara sosiologis ke Islam secara politis. Akhirnya, orientasi elit politik Islam dari sekedar memenangkan pemilu harus beralih pada peningkatan kualitas kehadiran dan kontribusi partai-partai Islam bagi tumbuh kembangnya demokrasi yang lebih adil, akuntabel dan berintegritas. Sehingga, konsep pemahaman partai Islam atau bukan lebih samar dan konstituen lebih melihat sepak terjang dan kualitas partai itu sendiri. Sekali lagi terlepas dari partai Islam atau tidak.   Sebab buku ini disusun oleh LIPI, bahasa yang digunakan dalam buku ini bersifat akademis dengan pertimbangan siap dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Keunggulan buku ini akan mengantarkan pemahaman lebih holistik dan ilmiah daripada menerka-nerka eksistensi partai Islam dalam Pemilu yang cenderung minoritas. Gamblangnya, dengan membaca buku ini kita akan menemukan alasan-alasan rasional dan empirik mengapa partai Islam secara politik minoritas dan bagaimana prediksi partai Islam di Indonesia.Kekurangan yang mungkin mudah terungkap dari buku ini berkisar pada kurang padunya alur pembahasan partai-partai Islam dari sudut pandang faktor volatilitas elektoral dalam beberapa bab yang mengupas partai-partai secara terpisah. Kebanyakan masih mengungkap deskripsi yang lebih gemuk dalam tulisan dari pada faktor eksplanasi volatilias elektoral. Hal ini terkadang agak kurang mendukung pengantar dan penutup tulisan yang sangat luar biasa. Adalah wajar ketika mengingat penulisan buku ini dilakukan oleh banyak penulis.Terakhir, buku ini layak dibaca karena di dalamnya memuat analisis volatilitas partai-partai Islam antar pemilu yang masih minim terdapat literatur yang secara serius mengupasnya. Selain itu, beragam pendekatan-pendekatan teoritis dalam menganalisis volatilitas partai-partai Islam menjadi nilai tawar yang semakin membuat buku ini layak dipelajari. Terutama bagi kalangan elite partai Islam sebagai bahan perenungan dan juga mahasiswa dan dosen sebagai bahan kajian serta masyarakat secara umum yang memiliki ketertarikan kepada persoalan partai-partai Islam.   Judul Buku                   : Masa Depan Partai Islam di IndonesiaEditor                          : Moch. NurhasimTim Penulis                  : Moch. Nurhasim                                    Lili Romli                                    Sri Nuryanti                                    Luky Sandra Amalia                                    Ridho Imawan Hanafi                                    Devi Darmawan                                    Syamsudin HarisPenerbit                       : Pustaka PelajarJumlah Halaman            : 314Tahun Terbit                :  2016Download di sini

SELAMAT JALAN PAK HUSNI

Oleh : Miftakul Rohmah, S.Ag., M.PdAnggota KPU Kabupaten Sidoarjo Kamis, 7 Juli 2016 sekitar pukul 21.00 WIB, di saat bulan Ramadhan baru saja berlalu dan umat Islam masih dalam euphoria menyambut hari kemenangan, kita dikejutkan dengan berita meninggalnya Ketua  KPU RI, Bapak Husni Kamil Manik. Hari itu tentu saja akan menjadi hari yang akan selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang konsen dengan demokrasi di Indonesia dan terutama keluarga besar KPU di seluruh Indonesia.Meskipun secara pribadi saya tidak begitu sering berjumpa dengan beliau, tetapi berdasarkan testimoni dari banyak orang, banyak yang menilai sosok seorang Husni Kamil Manik adalah seorang pemimpin yang bertangan dingin, santun dan tenang. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI ke-6 mengatakan, “Saya mengenal sosok almarhum, tenang, cakap memimpin, menghadapi berbagai masalah ditekan kanan kiri selalu tegar, bersikap independent, tak memihak, pandai mengambil jarak, bahkan pelihara jarak dengan pemerintah,” katanya.Sementara Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Prof. Jimly Assidiqi, mengatakan, almarhum Husni merupakan sosok pemimpin muda cemerlang, pribadi yang sangat sabar, tenang, rasional dan komunikatif dalam menyikapi setiap persoalan. Sikap itu, lanjut Jimly, membuat semua persoalan tugas berjalan lancar, setiap masalah yang dihadapi bisa ditemukan solusinya.Disisi lain, di internal KPU sendiri, baik di level KPU Provinsi maupun Kabupaten/Kota, para komisioner yang sudah menjabat lebih dari 2 periode merasakan betul perbedaan kepemimpinan KPU dibawah kepemimpinan Husni Kamil Manik dengan periode-periode sebelumnya. Penataan organisasi begitu gencar dilakukan, peningkatan kinerja selalu ditekankan, dan di bawah kepemimpinannya KPU menjelma menjadi Lembaga Negara yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri. Beberapa penghargaan pun diberikan kepada KPU. Dalam hal transparansi, misalnya, KPU menjadi lembaga yang memperoleh peringkat Nomor 2 setelah PPATK. Penghargaan yang diberikan secara langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo itu membuktikan bahwa KPU merupakan badan publik yang transparan kepada masyarakat, sekaligus sebagai mitra pemerintah yang mampu menyukseskan program-program dari kementerian/lembaga negara RI, melalui pengelolaan informasi dan dokumentasi sebagai frontliner, dan juga keberhasilan fitur-fitur KPU berbasis teknologi informasi seperti SITUNG, SITAP, SILON, SILOG dan program lain untuk mendekatkan KPU kepada masyarakat.Meskipun demikian, meninggalnya Ketua KPU RI yang begitu mendadak ini ternyata juga menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Bertebaran ciutan dan posting media sosial seputar penyebab meninggalnya Husni Kamil Manik, ada yang menduga  bahwa  Husni Kamil Manik sengaja di-Munirkan untuk menghilangkan jejak kecurangan dalam Pilpres Tahun 2014 lalu. Sampai-sampai politisi Golkar yang juga mantan anggota DPR RI, Ali Mochtar Ngabalin, meminta keluarga untuk mengikhlaskan jasad almarhum untuk diotopsi agar bisa diketahui apakah memang benar bahwa wafatnya almarhum memang tidak wajar. Kontroversi ini pula yang membuat Prof. Jimly Asshidiqy meminta kepada tim dokter RSPP untuk mengungkapkan ke publik penyebab pasti meninggalnya almarhum. Tentu keinginan Prof. Jimly ini didasari keinginannya agar polemik atas wafatnya almarhum segera berakhir, sampai-sampai Menkes RI, Nila Djuwita F. Moeloek harus ikut mengklarifikasi  isu-isu liar seputar meninggalnya Almarhum benar-benar karena sakit “Kami sudah menerima laporannya secara lisan dari Direktur RSPP. Beliau sakit”, katanya .Terlepas adanya kontroversi di masyarakat terkait meninggalnya Husni Kamil Manik, ada beberapa tanda-tanda kematian yang dipercaya umat Islam akan kematian seseorang apakah seseorang itu meninggal dalam keadaaan suul khotimah ataukah khusnul khotimah. Diantaranya : 1). Almarhum meninggal pada malam Jumat dan di saat hari Raya Idul Fitri atau hari kemenangan bagi umat Islam setelah almarhum menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan. Bukankah salah satu sabda Nabi : ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim) 2). Menurut salah satu saksi mata yang mendampingi beliau pada saat meninggal, mengatakan, bahwa beliau meninggal ketika beliau terlelap dalam tidur dan wajahnya terlihat  begitu bahagia. Wallahua’lam bish shawab, pada akhirnya biarkanlah menjadi urusan Allah SWT. yang akan menghisab segala kebaikan dan keburukan seseorang. Selamat jalan, Pak Husni Kamil Manik. Keteladananmu dalam memimpin dan warisanmu tentang integritas dan profesionalitas selaku penyelenggara pesta demokrasi akan selalu menjadi pegangan dan pijakan kami.

Memaknai Idul Fitri

Jumat, 01 Juli 2016Oleh : Miftakul Rohmah, S.Ag., M.PdAnggota KPU Kabupaten Sidoarjo Tanpa terasa Hari Raya Idul Fitri sebentar lagi akan tiba, sudah bisa dipastikan hari raya ini di sambut dengan gembira oleh seluruh umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri ada tradisi unik, yakni tradisi untuk bersilaturahmi ke yang lebih tua atau lebih sering dikenal dengan halal bihalal, dan tradisi mudik. Setiap lebaran, umat Islam Indonesia berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya tak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan, dan tak peduli jika harus bersusah payah berdesak-desakan, baik di bis ataupun di kereta. Lalu apakah sebenarnya  makna  dari Idhul Fitri itu sendiri.Para alim ulama berbeda pendapat tentang makna dari Idul Fitri. Di antara perbedaan pendapat tersebut, diantaranya, sebagian ulama berpendapat bahwa Idul Fitri berasal dari dua kata, id artinya  kembali atau berulang, dinamakan id karena berulang setiap tahunnya. Sedangkan fitri berasal dari  kata afthara yang artinya berbuka, atau tidak lagi berpuasa dan kembali kepada aktifitas sebelum puasa yakni makan, minum dan hal-hal lain yang tidak diperbolehkan selama bulan ramadhan. Pendapat mereka ini merujuk pada salah satu hadist yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah pergi untuk sholat Idul Fitri tanpa makan kurma sebelumnya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra: Tidak sekalipun Nabi Muhammad SAW pergi untuk sholat pada hari raya Idul Fitri  tanpa makan beberapa kurma sebelumnya, Anas juga mengatakan : Nabi Muhammad SAW makan kurma dalam jumlah ganjil. (HR Bukhari).Sebagian ulama lainnya memaknai Idul Fitri sebagai puncak/klimak dari pelaksanaan ibadah puasa  di bulan Ramadhan atau keberhasilan yang diperoleh setelah pelaksanaan ibadah puasa, atau disebut  juga hari raya kemenangan karena telah berhasil melawan hawa nafsu selama sebulan penuh. Sehingga hari raya dimaknai juga sebagai kembali kepada fitrah kesucian atau keterbebasan dari segala dosa dan noda, ibarat manusia layaknya seorang bayi yang baru dilahirkan kembali bersih tanpa dosa. Pendapat mereka ini berpegangan pada hadist nabi Muhammad SAW yang menyatakan  bahwa puasa Ramadhan dan segala aktivitas di dalamnya menghapuskan dosa-dosa terdahulu.        “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena Allah SWT, maka  di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu, Muttafaqalayh)Meskipun terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama dalam mendefinisikan makna Idul Fitri dengan argumentasi dan dalil masing-masing, sesungguhnya kedua-duanya sama-sama kuat  tinggal ditinjau dari sudut mana memaknainya. Ketika kita memaknai secara lahiriah,  sudah barang tentu dengan tibanya Idul Fitri maka menjadi bolehlah semua yang dilarang saat melaksanakan  puasa, sedangkan ketika kita melihat dari sisi subtansinya, maka dengan ibadah puasa kita diharapkan mejadi pribadi yang suci dan bersih, baik ketika Idul Fitri dan sesudah Idul Fitri. Dan Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama dalam mendefinisikan makna hari raya Idul Fitri, maka sesungguhnya kita sebagai bagian dari umat Islam haruslah mengambil ibroh/hikmah dari makna yang terkandung dari hari raya Idul Fitri tersebut, beberapa hikmah yang bisa kita petik di antaranya  adalah :Pertama, Mempererat Hablul Minanash (hubungan sesama manusia), karena pada saat Idul Fitri inilah orang-orang saling bersilaturahmi dan saling memaafkan, saling melupakan permusuhan dan saling membuka lembaran baru.Kedua, Memperkokoh Keimanan, di dalam merayakan hari raya yang terpenting adalah bagaimana  mencapai status Idul Fitri, yakni kembali kepada jiwa yang suci bersih.  Bukan sebaliknya  bagaimana   cara agar dapat beridul fitri atau merayakan Idul Fitri dengan kemewahan pakaian, dengan bertumpuk kue dan makanan. Karena dengan kesadaran seperti ini maka kita dapat menaklukan  hawa nafsu untuk berbuat maksiat dan menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang.Ketiga, Menjadikan pribadi yang istiqomah. Hendaklah kita menjadi umat yang senantiasa istiqomah   taat kepada Allah. Ketaatan kita selama bulan Ramadhan, seperti ketaatan dalam sholat berjamaah, ketaataan dalam tadarus, ketaataan dalam bersodaqah, ataupun ketaatan dalam menahan hawa nafsu, harus terus dijaga dan dikawal sesudah bulan Ramadhan. Jangan sampai ketaatan kita pada  Allah SWT berkurang dan hilang seiring hilangnya bulan Ramadhan.Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam pribadi-pribadi yang beruntung, yang mampu mengambil  hikmah dari Idul Fitri dan mampu memaknai Idul Fitri secara benar. Pada kesempatan yang baik ini pula izinkan saya sebagai pribadi dan sebagai bagian dari keluarga besar KPU Kabupaten Sidoarjo,  mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H dan dengan niat tulus iklhas dari sanubari yang dalam, memohon maaf yang sedalam-dalamnya apabila dalam proses pelayanan dan pembangunan demokrasi yang kami lakukan belum bisa memuaskan semua pihak dan jauh dari kata sempurna.  Mari di bulan yang penuh berkah ini kita hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam,  rasa amarah dan  kita ganti semua dengan kasih sayang dan rasa persaudaraan.

PUASA DAN PRODUKTIVITAS KERJA DI KPU SIDOARJO

Jumat, 24 Juni 2016Oleh : Miftakul Rohmah, S.Ag., M.Pd ; Anggota KPU Kabupaten SidoarjoBeberapa hari yang lalu secara tidak sengaja membaca sebuah berita di salah satu media online tentang kekaguman Paul Grigson, seorang Dubes Australia yang beragama katholik,  terhadap umat Islam atas kemampuannya menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.   Bahkan saking kagumnya terhadap umat Islam, Dubes Australia menjadwalkan akan mengadakan acara buka puasa 8x dalam bulan Ramadhan ini. “Berpuasa jelas sangat  menantang. Untuk beberapa hari pertama, saya rasa saya sangup-sangup saja, tetapi minggu kedua, ketiga dan berikutnya, waah. Karena itu saya sangat salut terhadap umat islam, mereka kuat,“ pujinya.Maka sesungguhnya pernyataan Paul Grigson tersebut, menjadi hal yang wajar karena dirinya seorang katolik, tapi sesungguhnya bagi umat Islam tidak hanya menunjukkan  kemampuan kita berpuasa sebulan penuh, tapi juga harus mampu meningkatkan  produktivitas kita bekerja. Puasa tidak boleh dijadikan alasan untuk malas-malasan dan tidur-tiduran. Bukankah dengan bermalas-malasan dan tidur-tiduran pada saat puasa   malah justru menjadikan kita lemas dan merasa tidak kuat menjalankan puasa.Bila kita menengok ke zaman Rasulullah, maka akan kita jumpai banyak sekali kejadian- kejadian yang menunjukan etos kerja yang luar biasa dari umat Islam. Bukankan perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Perang Badar merupakan suatu peristiwa yang luar biasa dalam sejarah Islam. Perang yang tidak sebanding dari segi jumlah, antara umat Islam dan kaum Qurais, yakni antara 300 orang kaum muslim melawan hampir 1000 orang kafir Qurais. Belum lagi kondisi padang pasir yang begitu panasnya, paling tidak menguras tenaga dan menimbulkan dahaga yang luar biasa, tetapi umat Islam mampu memenangkan peperangan dengan gemilang dan bukankah kemerdakaan bangsa kita yang kita peroleh dengan perjuangan fisik juga kita dapatkan bertepatan di bulan Ramadhan.Dalam kajian sosiologi akan keterkaitan antara ibadah seseorang dengan spirit dalam meraih  keberhasilan dalam kehidupan, Puasa -begitu juga ibadah yang lain- justru pendorong bagi umat yang menyakininya. Korelasi tersebut muncul karena keyakinan mendalam para pemeluk agama dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan tuntunan agamanya. Ada  beberapa alasan kenapa berpuasa meningkatkan etos kerja :Pertama, ibadah-ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan berbeda ganjarannya dengan ibadah yang dilakukan di luar bulan Ramadhan artinya bahwa pada bulan Ramadhan, setiap kewajiban amalnya dikalikan 70. Ibadah sunnahnya dinilai sama dengan ibadah wajib, dan ibadah wajibnya dikalikan 70, sebagaimana hadist Rasulullah SAW : Barangsiapa yang bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) di dalam bulan Ramadhan dengan satu bentuk kebaikan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan satu fardhu (kewajiban) di bulan lainnya. Dan siapa yang mengerjakan satu fardhu di bulan Ramadhan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya. (Ibnu Khuzaimah).kedua, dari segi kesehatan, sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa pada saat kita berpuasa, ada proses detoksifikasi di dalam tubuh yang efeknya membangun ketahanan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih sehat. Selain terbukti menyehatkan, puasa juga membuat pikiran menjadi lebih tenang dan juga melambat. Uniknya, menurut penelitian ternyata pikiran yang melambat ini membuatnya justru bekerja lebih tajam. Selain itu ditinjau dari segi insting, masalah rasa lapar adalah masalah kelanjutan hidup sehingga wajar jika rasa lapar memaksa kita untuk berpikiran lebih tajam dan kreatif. Hal ini juga dibuktikan dengan suatu kasus pada sekelompok mahasiswa di University of Chicago yang diminta berpuasa selama tujuh hari. Selama masa itu, terbukti bahwa kewaspadaan mental mereka meningkat dan progres mereka dalam berbagai penugasan kampus mendapat nilai “REMARKABLE.”ketiga, ketika kita berpuasa, waktu bekerja menjadi lebih panjang karena tidak tergangu dengan aktivitas untuk makan dan minum, yang pada gilirannya akan secara otomatis membantu kita untuk bisa mengoptimalkan waktu yang ada untuk bekerja. Memang pada hakikatnya bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat kewajiban puasa, bukan berarti membuat umat Islam menjadi lemah dan lesu dalam bekerja, bahkan bermalas-malasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun sejatinya, pada saat bulan Ramadhan tiba umat Islam diarahkan untuk meningkatkan amal ibadah dan taqarrub kepada Allah, dan mencari nafkah juga bagian dari ibadah serta sarana bertaqarrub kepada Allah. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda : Sesungguhnya, meskipun engkau memberikan nafkah kepada keluargamu sendiri, engkau tetap memperoleh pahala, sampai sekerat makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu. (Bukhari)Spirit puasa itulah yang ingin dibangun di KPU Kabupaten Sidoarjo. Ibadah puasa tidak menghalangi untuk melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Sebagai contoh, saat ini KPU Kabupaten Sidoarjo tengah sibuk melakukan kegiatan penataan dan pengelolaan arsip/dokumen yang dimiliki mulai dari Tahun 2004 sampai dengan 2015. Meskipun kegiatan tersebut sudah barang tentu membutuhkan tenaga ekstra, karena kami harus membongkar, memilah, mengklasifikasikan dan menata arsip dari tahun 2004 sampai dengan 2015. Namun hal ini tidak menghalangi kami untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Kami menyakini, sesungguhnya peningkatan produktivitas kerja yang terjadi pada bulan Ramadhan ini akan menjadi ujian awal untuk menguji etos kerja seseorang atau lembaga pada bulan-bulan selanjutnya. Jika etos kerja meningkat di bulan Ramadhan, maka sudah bisa dipastikan secara alamiah bahwa produktivitas kerjanya juga akan terus meningkat pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Semoga.